Oh Guru TIDAK TETAP (GTT), Memang Hebat Jasamu!!!

Alkisah, Tono adalah seorang lulusan SMA salah satu Sekolah pinggiran. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang kuliah dan memilih menjadi Karyawan di Pabrik. Beberapa bulan kemudian, Tono bisa membeli sebuah sepeda motor baru yang mewah dengan upahnya yang sesuai UMR Kabupaten Rp, 1,2 Juta/Bulan.

Sedangkan, Budi adalah seorang lulusan perguruan tinggi negeri bergelar Sarjana Pendidikan. Dia adalah pemuda yang pintar. Tidak hanya itu saja, dia juga pintar dalam mengajari murid-muridnya sehingga anak yang dia ajar hampir semuanya menjadi pintar. Sayangnya Budi belumlah menjadi PNS. Dia hanya Guru Tidak (GTT) tetap di salah satu sekolah swasta. Dengan gelarnya yang sarjana, Dia hanya mendapat gaji Rp.250.000,-/ Bulan yang bahkan untuk membeli Sepatu dan celana baru saja sudah habis dalam sedetik. Si Budi yang berharap mendapatkan tunjangan sertifikasi pun harus gigit jari karena Dia harus menunggu entah berapa tahun untuk dapat mengajukan Sertifikasinya. Malangnya nasib si Budi, Deritanya semakin bertambah ketika dia tidak mendapatkan jam mengajar yang lebih, karena tersingkir dari Guru-guru PNS yang mencari 24 Jam untuk mendapatkan sertifikasinya. Inilah perjuangan si Budi, Guru Sarjana Pendidikan yang sedang berjuang mencerdaskan Anak Negeri ini. Dia tetap berjalan walau sistem di negeri ini malah menyandunginya.

Renungan hari ini, Negeri ini tidak akan maju jika guru-gurunya mendapatkan kesejahteraan yang tidak layak. Guru PNS dan sertifikasi dalam pendidikan seakan lebih menyudutkan para Pejuang-pejuang guru yang dinamakan GTT (guru tidak tetap). Apakah setimpal seseorang yang mengenyam pendidikan sarjana dan mencerdaskan anak bangsa hanya mendapat Rp.250.000,- yang hanya seperlimanya dari anak lulusan SMA. Mereka tidak pernah demo atau protes yang gajinya jauh di bawah UMR. Semoga, tulisan ini membuka sudut pandang kita bahwa masih ada guru yang tanpa tanda jasa yaitu GURU TIDAK TETAP.

Advertisements

MULTILINGUALISM IN CENTRAL JAVA

Reviewed by Riko Arfiyantama

This article is meant to describe the use of languages or Multilingualism in Central Java society. It is interesting to know how people choose a language i.e. Bahasa Indonesia, Javanese, or even English as a means of communication since they can use the languages interchangeably. This article will be carried out by taking from language domain, language shift and maintenance, and language revitalization and death point of view. Therefore, there will be mapping in the language setting, interaction, and participants examples provided. Then, the change or the transformation of the language use among the society and its factor. At last, it describes what language needs to be revitalized in order not to be extinct.

INTRODUCTION

Goh and Silver (2004) explain, “Individuals in multilingual societies have to choose languages or varieties according to the different situations. Sometime the choice might concern of the use of a different style or register”. It is likely to happen in Indonesia where many languages are used for example in Central Java where Bahasa Indonesia, Javanese language, and English are used in that place. Bahasa Indonesia is used frequently when people communicate in the formal situation such as in the meeting, school, commerce, and media. While English is used at school, commerce, and technology. Moreover, Javanese is used broadly by society in the informal situation such as at home, and colloquial conversation. The use of the three languages may become an interesting topic to examine by looking at Goh and Silver point of view. Since the use of three languages in Central Java society is unique and need to be investigated further. In this essay, it will be discussed the use of the three language from three points of view. They are the (1) language domain, (2) language shift and maintenance, and (3) lan Continue reading

REFORMASI KURIKULUM SEKOLAH DASAR

Ulasan Reformasi Kurikulum Sekolah Dasar

Oleh Riko Arfiyantama

Mahasiswa Pasca Sarjana UNNES

0204511015

Perubahan kurikulum perlu dilaksanakan dalam jenjang waktu tertentu mengingat adanya perubahan jaman dan kebutuhan peserta didik yang berbeda. Wacana perubahan kurikulum Sekolah Dasar (SD) dalam beberapa waktu ini membuat orang bertanya-tanya apakah kebijakan tersebut sudah tepat dilaksanakan ataukah hanya karena kepentingan birokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, para praktisi pendidikan seharusnya melihat dulu sisi positif dan negatif dari kurikulum baru sebelum benar-benar memberlakukannya karena esensi perubahan kurikulum secara harfiah adalah untuk memberikan memperbaiki kualitas pendidikan dan mengatasi masalah dan kelemahan yang terjadi dalam kurikulum yang sudah berjalan.

Wacana Kementrian Pendidikan Nasional terhadap kurikulum SD adalah mengurangi mata pelajaran tingkat SD yang semula terdapat 11 mata pelajaran menjadi 7 mata pelajaran sebagai berikut. Continue reading

Aspect of Language

How people acquire a language can vary from one to others. This fact is proven because people usually use different steps, techniques, methods, or even approachesin order to learn and use a language. The book of Language Acquisition and Development written by Chirstine C. M. Gohand Rita Elaine Silver discuss this topic from the basic overview. To make someone able to speak or write is not an easy way. There are some steps or even many steps to do. In English, the same with other second or foreign language, there are four skills which should be learned in order to acquire English entirely. They are listening, speaking, reading, and writing. In order to speak and write, someone needs to listen and read much. Like a baby, they start by listening more before speaking. After that it can learn to read after that they can write. Those cycles are bound. They cannot be separated each other. Continue reading

APPRAISALS AND CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS IN “WE WILL NOT GO DOWN” SONG LYRIC

Riko Arfiyantama, Post Graduate Student of Semarang State University

NIM: 0204511015

Lecturer: Dr. Djoko Sutopo M.Pd.

ABSTRACT

This research aims to analyze a phenomenal song entitled “We will not Go Down” which is composed by Michael Heart. The song has to do with Gaza war which involved Palestinians and Israelis’ conflict. It is undertaken to find out; the composer’s attitudes, the social relation among the participants, the context of the situation, and the power relation in the discourse. The object of the study is obtained from the whole lyric. Then it is analyzed through Appraisals and Critical Discourse Analysis (CDA) by connecting every single line to the political and social context in Gaza. Finally, the conclusion shows that 1) the composer condemns the aggression, 2) he also supports the casualties of the war, 3) he explicitly describes what was happening in Gaza, and 4) the song is only a humanitarian song which describes the situation in Gaza and he intends to give and gain support for Palestinians though this song. Continue reading

SMK Berbagai Bidang

Setelah membaca buku Dunia Tanpa Sekolah Karya Izza sang penggarang cilik, banyak hal yang dapat diambil untuk menggambarkan sekolah di Indonesia sekarang ini. Ironis! Beberapa siswa tertekan dengan adanya suatu kewajiban yang harus mempelajari semua mata pelajaran sekaligus tanpa mengetahui apa kegunaan dan manfaat yang akan mereka dapat. Buku itu membuat Penulis terbelalak -sebagai seorang guru- jika melihat hal tersebut berlangsung di sekolah-sekolah bumi pertiwi ini. Hal yang paling membuat penulis sadar akan arti memanusiakan manusia dan wajib belajar seumur hidup (bukan wajib belajar sembilan tahun ataupun dua belas tahun). Hal yang sangat perlu diperhatikan oleh para penentu arah pendidikan di Indonesia. Continue reading