Oh Guru TIDAK TETAP (GTT), Memang Hebat Jasamu!!!

Alkisah, Tono adalah seorang lulusan SMA salah satu Sekolah pinggiran. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang kuliah dan memilih menjadi Karyawan di Pabrik. Beberapa bulan kemudian, Tono bisa membeli sebuah sepeda motor baru yang mewah dengan upahnya yang sesuai UMR Kabupaten Rp, 1,2 Juta/Bulan.

Sedangkan, Budi adalah seorang lulusan perguruan tinggi negeri bergelar Sarjana Pendidikan. Dia adalah pemuda yang pintar. Tidak hanya itu saja, dia juga pintar dalam mengajari murid-muridnya sehingga anak yang dia ajar hampir semuanya menjadi pintar. Sayangnya Budi belumlah menjadi PNS. Dia hanya Guru Tidak (GTT) tetap di salah satu sekolah swasta. Dengan gelarnya yang sarjana, Dia hanya mendapat gaji Rp.250.000,-/ Bulan yang bahkan untuk membeli Sepatu dan celana baru saja sudah habis dalam sedetik. Si Budi yang berharap mendapatkan tunjangan sertifikasi pun harus gigit jari karena Dia harus menunggu entah berapa tahun untuk dapat mengajukan Sertifikasinya. Malangnya nasib si Budi, Deritanya semakin bertambah ketika dia tidak mendapatkan jam mengajar yang lebih, karena tersingkir dari Guru-guru PNS yang mencari 24 Jam untuk mendapatkan sertifikasinya. Inilah perjuangan si Budi, Guru Sarjana Pendidikan yang sedang berjuang mencerdaskan Anak Negeri ini. Dia tetap berjalan walau sistem di negeri ini malah menyandunginya.

Renungan hari ini, Negeri ini tidak akan maju jika guru-gurunya mendapatkan kesejahteraan yang tidak layak. Guru PNS dan sertifikasi dalam pendidikan seakan lebih menyudutkan para Pejuang-pejuang guru yang dinamakan GTT (guru tidak tetap). Apakah setimpal seseorang yang mengenyam pendidikan sarjana dan mencerdaskan anak bangsa hanya mendapat Rp.250.000,- yang hanya seperlimanya dari anak lulusan SMA. Mereka tidak pernah demo atau protes yang gajinya jauh di bawah UMR. Semoga, tulisan ini membuka sudut pandang kita bahwa masih ada guru yang tanpa tanda jasa yaitu GURU TIDAK TETAP.

Mau Minum? Pikir-pikir dulu deh…

Barusan saya dapat cerita dari kakak sepupu. Ceritanya sih gini, ada seorang anak muda ngendarai mobil baru Xenia di desa saya tinggal. Nah, parahnya dia itu nabrak sepeda motor Vixion yang diparkir di pinggir jalan. Sontak, semua orang di sekitar motor pun teriak dan mengejar si pengemudi mobil yang melarikan diri setelah menabrak motor.

**——————**

Singkat cerita, orang-orang yang mengejar pengemudi ugal-ugalan tersebut gagal menghentikan laju kencang mobilnya. Nah tapi, ceritanya tidak berakhir disini. Selang beberapa saat, ada suara kencang seperti bunyi BOOM “Grubyarrrrr”. Tidak dinyana, suara gemblegar tersebut ternyata bersumber dari bunyi mobil xenia yang nyemplung ke parit warga. Setelah warga melihat-lihat keadaan mobil tersebut, tidak ditemukan seorang pun korban dari mobil dan si pengemudi ugal-ugalan berhasil melarikan diri.

Semua hal baik buruk yang kita lakukan pasti ada balasannya……

Nah keesokan harinya, si pengemudi ugal-ugalan menyerahkan diri ke polsek untuk mempertangungjawabkan perbuatannya. Setelah ditanya pihak kepolisian, si pengemudi mengaku bahwa dia mengendarai mobilnya dalam keadaan MABUK setelah minum minuman keras.

Sekarang si pengemudi harus ganti rugi motor yang ditabrak + kehilangan mobil xenia barunya + masuk penjara karena mengemudi sambil mabuk.

Mungkin kisah ini kurang berat jika dibanding dengan kisah Afriyani yang menabrak tewas 9 orang karena teler (:mabuk). Namun, kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang terjadi di atas. Sekarang renungkan hal ini?

Apakah minum 1 gelas air yang habis beberapa menit sebanding dengan ganti rugi motor, kehilangan mobil, dan masuk penjara?

Apakah minum 1 botol air yang menyenangkan tidak lebih dari 1 hari sebanding dengan sedih selama bertahun-tahun karena berhutang, kehilangan sesuatu, atau bahkan masuk penjara?

Apakah minum 1 gelas air sebanding dengan nyawa yang Anda taruhkan pada saat minum alkohol?

Pastinya kita semua tahu harus menjawab apa… Nah Sekarang pilihan di tangan Anda!!!

Making an Awesome and Meaningful Parting with your Students

This morning, I was just thinking what should I do for my students who will leave their school. I, as the teacher, wanted to make unforgettable moment for them. And, this also became a moment when I gave them the last motivation of what they should do in the future. Thanks God. It runs so hearth-touching and awesome.

Well, here I want to share how I plan that parting with my students.

First, I play this video.

9-year-old boy discussing the meaning of life.

Because I’m an English teacher who teaches EFL (English as foreign Country). I play the video in the purpose of giving my students listening practice. But, actually my intention is giving them the moral value of the video which can inspire them when they have left the school. Continue reading

MULTILINGUALISM IN CENTRAL JAVA

Reviewed by Riko Arfiyantama

This article is meant to describe the use of languages or Multilingualism in Central Java society. It is interesting to know how people choose a language i.e. Bahasa Indonesia, Javanese, or even English as a means of communication since they can use the languages interchangeably. This article will be carried out by taking from language domain, language shift and maintenance, and language revitalization and death point of view. Therefore, there will be mapping in the language setting, interaction, and participants examples provided. Then, the change or the transformation of the language use among the society and its factor. At last, it describes what language needs to be revitalized in order not to be extinct.

INTRODUCTION

Goh and Silver (2004) explain, “Individuals in multilingual societies have to choose languages or varieties according to the different situations. Sometime the choice might concern of the use of a different style or register”. It is likely to happen in Indonesia where many languages are used for example in Central Java where Bahasa Indonesia, Javanese language, and English are used in that place. Bahasa Indonesia is used frequently when people communicate in the formal situation such as in the meeting, school, commerce, and media. While English is used at school, commerce, and technology. Moreover, Javanese is used broadly by society in the informal situation such as at home, and colloquial conversation. The use of the three languages may become an interesting topic to examine by looking at Goh and Silver point of view. Since the use of three languages in Central Java society is unique and need to be investigated further. In this essay, it will be discussed the use of the three language from three points of view. They are the (1) language domain, (2) language shift and maintenance, and (3) lan Continue reading

REFORMASI KURIKULUM SEKOLAH DASAR

Ulasan Reformasi Kurikulum Sekolah Dasar

Oleh Riko Arfiyantama

Mahasiswa Pasca Sarjana UNNES

0204511015

Perubahan kurikulum perlu dilaksanakan dalam jenjang waktu tertentu mengingat adanya perubahan jaman dan kebutuhan peserta didik yang berbeda. Wacana perubahan kurikulum Sekolah Dasar (SD) dalam beberapa waktu ini membuat orang bertanya-tanya apakah kebijakan tersebut sudah tepat dilaksanakan ataukah hanya karena kepentingan birokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, para praktisi pendidikan seharusnya melihat dulu sisi positif dan negatif dari kurikulum baru sebelum benar-benar memberlakukannya karena esensi perubahan kurikulum secara harfiah adalah untuk memberikan memperbaiki kualitas pendidikan dan mengatasi masalah dan kelemahan yang terjadi dalam kurikulum yang sudah berjalan.

Wacana Kementrian Pendidikan Nasional terhadap kurikulum SD adalah mengurangi mata pelajaran tingkat SD yang semula terdapat 11 mata pelajaran menjadi 7 mata pelajaran sebagai berikut. Continue reading

Aspect of Language

How people acquire a language can vary from one to others. This fact is proven because people usually use different steps, techniques, methods, or even approachesin order to learn and use a language. The book of Language Acquisition and Development written by Chirstine C. M. Gohand Rita Elaine Silver discuss this topic from the basic overview. To make someone able to speak or write is not an easy way. There are some steps or even many steps to do. In English, the same with other second or foreign language, there are four skills which should be learned in order to acquire English entirely. They are listening, speaking, reading, and writing. In order to speak and write, someone needs to listen and read much. Like a baby, they start by listening more before speaking. After that it can learn to read after that they can write. Those cycles are bound. They cannot be separated each other. Continue reading