BERAPA HARGAMU? (Pengen tahu seberapa besar rezeki Anda)

lapak yang dibagi dua

Gambar diambil dari http://caeciliamediana.blogspot.com/2012/02/penjahit-jalanan-mengais-rezeki-dari.html

Eits…Kalau baca judulnya. Jangan segera berpikiran negatif bahwa saya akan membeli Anda atau membeli seseorang. Akan tetapi, “harga-mu” yang saya tulis maksudnya adalah Harga Diri Anda. Jadi jangan marah ya kalau saya tanya, “berapa sih harga Anda?”

Okelah saya jelaskan, kenapa saya ingin membuat tulisan tentang harga diri. Yup bener Harga Diri berarti berkorelasi dengan Harga (Baca: Uang) ataupun Rezeki. Apakah anda pernah dengar? Orang yang cas-cis-cus ngomong di depan anda selama satu sampai dua jam tapi dia dibayar sampai 1 juta atau bahkan ada yang sampai 10-20 juta per 2 jamnya. Kerennn! Coba, kita lihat sebagian dari kita. Ada saja orang yang ngomong malah disuruh diam, dimaki-maki, atau bahkan dilempar penghapus. Hehehe… Boro-boro dibayar, eh ini kok dilempar. Lha kok bisa? Bisa aja, coba aja anda ngomong sendiri di depan guru Anda yang galak pas pelajaran berlansung. Niscaya penghapus atau barang sejenis akan meluncur ke Anda. hehehe.

Nah sekarang apa beda orang yang ngomong dibayar tinggi dan yang sebaliknya? Perbedaan itulah yang namanya “Harga Diri”. Harga diri adalah suatu yang bisa diuangkan. Jika seseorang mempunyai harga diri yang tinggi, orang tersebut akan cenderung memiliki penghasilan yang tinggi pula.

Baik sekarang bayangkan ini:

Satu, pernahkah Anda memperhatikan orang-orang yang sering berkata kotor. Apa hasilnya? Yah bener semua setuju pasti penghasilan mereka rendah. Inilah yang namanya Harga Diri. Dengan berkata kotor, seseorang telah menurunkan harga dirinya sendiri sehingga dia tidak pantas dibayar tinggi. Coba lihat sisi sebaliknya. Orang yang berpenghasilan tinggi dan kaya, mereka cenderung memiliki penghasilan yang tinggi dan kaya. Jadi kasihanlah orang-orang yang suka berkata kotor karena sebenarnya mereka telah mengobral harganya sendiri. Blo’on bin Konyol… Hehe

Kedua, pernahkan Anda lihat orang-orang yang suka meminta-minta alias pengemis. Seberapa pantas sih mereka diberi. Mungkin Rp. 1000 atau bahkan Rp. 500 perak pun pantas. Nah inilah yang namanya Harga Diri. Dengan meminta-minta, orang akan mempunyai Harga Diri yang rendah dan dia pun mempunyai penghasilan yang rendah. Sebaliknya, coba kita lihat. Ada seorang yang sering memberi orang lain, semisal dia suka memberi uang Rp.25.000,- setiap minggu ke masjid atau panti asuhan. Apa yang terjadi, jika ada orang yang mau memperkejakannya (Baca: memberi uang), dia pasti dibayar berkali-kali lipat dengan harga yang lebih dari yang dia beri ke orang lain. Keren kan?

Ketiga, pernahkah Anda memperhatikan orang yang terkena narkoba, selingkuh, atau melakukan kejahatan lainnya. Tanpa mereka sadari mereka telah menggenolkan harga mereka. Ya bener mereka sudah gak laku kalo dijual karena orang lain sudah tidak percaya lagi. Boro-boro memperkejakan mereka (Baca:memberi uang). Bahkan, kedatangannya saja tidak diharapkan oleh orang lain. So bisa dipastikan, orang yang sering melakukan kejelekan dan kejahatan lainnya. Itu sama saja dengan dia telah menutupi pintu rezekinya sendiri.

Keempat, mana orang yang lebih layak dibayar mahal. Misanya, ada dua orang yang kerja di tempat yang sama dengan kemampuan yang sama. Coba bandingkan ini: Orang yang jujur apa pembohong? Orang yang Rajin apa Malas? Orang yang Rapi atau berantakan? Orang yang respek atau cuek? orang yang suka memberi atau meminta? orang yang suka membantu atau yang suka dibantu? orang yang optimis atau pesimis? orang yang tegar atau suka mengeluh? Pastinya Anda tahu mana yang pantas dibayar lebih mahal.

Inilah mengapa, Tuhan telah memerintahkan kita untuk menjadi orang yang senantiasa menjaga malu. “Malu” disini artinya malu mengerjakan hal yang buruk. Yah sekarang Anda sudah tahu alasannya mengapa Tuha  berfirman untuk menjaga malu, yup benar karena itu akan menutup pintu rezeki kita.

OK, right now, let’s see another example. Semua akan bilang setuju kalau Jepang adalah salah satu negara yang maju dan kaya. Nah salah satu faktor yang membuat negara tersebut kaya adalah karena bangsa Jepang selalu menjunjung tinggi harga diri mereka. Orang-orang di Jepang adalah orang yang punya harga diri yang tinggi. Mereka ndak suka bermalas-malasan. Mereka pantang meminta-minta. Mereka malu untuk berbuat jelek. Bahkan saking menjaga Harga dirinya. Kalau ada pejabat yang terkena kasus korupsi, dia lansung mengundurkan diri atau bahkan ada yang sampai bunuh diri. Wooow inilah calon bangsa yang akan selalu kaya dan banyak rezekinya karena mereka selalu menjaga harga dirinya.

Sekarang, kita juga bisa membandingkan Negara mana yang mempunyai rezeki yang lebih. Pastinya Negara yang menjunjung tinggi harga dirinya. Lalu, Perusahaan atau instansi mana yang mempunyai rezeki yang lebih. Yup benar, Perusahaan yang tidak mengemis-ngemis minta orang untuk membeli produknya. Perusahaan yang besar itu biasanya memberikan produk yang ditunggu-tunggu oleh konsumennya. Bahkan ada yang rela inden barang yang dijual. Hehehe. Keren kan? Bahkan kalau Anda sering memaksa konsumen membeli barang yang Anda jual, sama saja Anda telah menurunkan Harga Diri Anda (Rezeki). So Nawarin boleh aja, tapi jangan MAKSA!!. Konsumen akan lebih menilai Produk Anda lebih bernilai jika Anda mempunyai harga diri. Begitupun juga dengan instansi sekolah. Coba tebak, sekolah mana yang lebih laku. Sekolah yang sering menolak-nolak murid (Baca : Memberi), atau sekolah yang mencari-cari murid (Baca: meminta-minta). Oleh karena itu, jelaslah Negara, perusahaan, sekolah atau pun lembaga lainnya juga akan maju (Baca: mendapat rezeki) jika orang-orang di dalamnya dapat menjaga Harga Dirinya (Baca: Kedisplinan, Kejujuran, Kreativitas, dll). Semakin banyak orang dalam instansi Anda yang tidak mampu menjaga harga diri (Baca: Mangkir kerja, malas, korupsi, dll), maka dapat dipastikan perusahaan Anda akan mendapatkan Rezeki yang rendah pula.

Ringkasnya, Harga diri sangat berkorelasi dengan Penghasilan dan Rezeki Anda. Jadi, harapan saya. Setelah membaca artikel ini. Kita selalu berusaha melakukan hal yang baik dan berpikir ratusan kali kalau jika ingin melakukan hal buruk. Saya yakin orang yang sering melakukan hal buruk pastinya mempunyai rezeki yang kecil. So hindari hal buruk. Alasannya tidak lain lagi, Harga Diri (Baca: Rezeki) Anda taruhannya.

By Riko Arfiyantama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s