REFORMASI KURIKULUM SEKOLAH DASAR

Ulasan Reformasi Kurikulum Sekolah Dasar

Oleh Riko Arfiyantama

Mahasiswa Pasca Sarjana UNNES

0204511015

Perubahan kurikulum perlu dilaksanakan dalam jenjang waktu tertentu mengingat adanya perubahan jaman dan kebutuhan peserta didik yang berbeda. Wacana perubahan kurikulum Sekolah Dasar (SD) dalam beberapa waktu ini membuat orang bertanya-tanya apakah kebijakan tersebut sudah tepat dilaksanakan ataukah hanya karena kepentingan birokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, para praktisi pendidikan seharusnya melihat dulu sisi positif dan negatif dari kurikulum baru sebelum benar-benar memberlakukannya karena esensi perubahan kurikulum secara harfiah adalah untuk memberikan memperbaiki kualitas pendidikan dan mengatasi masalah dan kelemahan yang terjadi dalam kurikulum yang sudah berjalan.

Wacana Kementrian Pendidikan Nasional terhadap kurikulum SD adalah mengurangi mata pelajaran tingkat SD yang semula terdapat 11 mata pelajaran menjadi 7 mata pelajaran sebagai berikut.

1. Pendidikan Agama

2. Bahasa Indonesia

3. PPKn

4. Matematika

5. Kesenian

6. Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan

7. Pengetahuan Umum

Pengurangan mata pelajaran ini didasarkan pada terlalu banyaknya mata pelajaran yang perlu dipelajari oleh peserta didik karena pada dasarnya mereka tidak mengunakan semua ilmu tersebut pada saat mereka terjun dalam dunia yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengurangan mata pelajaran dianggap perlu karena kurikulum seharusnya dapat membantu anak menjadi manusia yang sebenarnya dan mampu menjalankan perannya di tengah masyarakat. Akan tetapi, apakah kebijakan ini sudah mengacu pada faktor-faktor yang berpengaruh besar terhadap kesuksesan anak sehingga anak mampu berkompetisi dan hidup dengan baik di lingkungan mereka? Mungkin masih banyak orang yang lupa bahwa kesuksesan anak dipengaruhi oleh dua hal yaitu hard skills dan Soft skills. Kemampuan yang pertama yakni hard skills  adalah kemampuan anak dalam untuk melakukan sesuatu hal seperti halnya mengoperasikan computer, pandai dalam sains, atau mampu memecahkan soal-soal mata pelajaran. Sedangkan kemampuan yang kedua adalah Soft Skills yang bertumpu pada karakter anak yang berwujud dalam sifat dan sikap yang beragama, pekerja keras, jujur, tanggung jawab, dan lainnya. Membandingkan dua kemampuan tersebut, soft skills ternyata memberikan dampak yang lebih besar terhadap keberhasilan peserta didik karena soft skills adalah poin penting yang mendorong anak dapat menggunakan dan mengembangkan hard skills  mereka. Lalu apakah Soft skills ini akan ditekankan di kurikulum yang baru. Atau apakah masih sama saja dengan kurikulum sebelumnya yang terlalu banyak menekankan hard skills seperti kurikulum yang terdahulu.

Menindaklanjuti hal ini, pastinya pemerintah juga harus bijak dan konsekuen dengan apa yang akan dilkukan. Jangan sampai perubahan kurikulum tidak diikut dengan kemampuan guru yang berkualitas sehingga terjadi persamaan kualitas pendidikan dengan kurikulum sebelumnya. Atau dengan kata lain, nama kurikulumnya saja yang berubah tetapi yang dilaksanakan di dalamnya masih sama seperti itu-tu saja tanpa adanya perubahan. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu memberikan terobosan-terobosan baru agar kurikulum yang baru benar-benar sukses berjalan.

Kurikulum juga harus dapat menumbuhkan potensi-potensi lokal untuk membekali anak dengan budaya bangsa yang positif sehingga mereka mengenal budaya ini lebih baik daripada budaya-budaya luar yang sekarang ini sudah sangat mengakar di masyarakat kita. Mata pelajaran kesenian yang masih dipertahankan harusnya juga perlu mendapatkan penekanan yang lebih dan diberikan warna yang berbeda dari mata pelajaran kesenian sebelumnya. Mata pelajaran ini harus dapat mencakup budaya bangsa Indonesia yang beragam dan perlu juga dimasukan bagaimana mereka melestarikan budaya-budaya yang mereka pelajari. Akan tetapi, dalam hl ini, pemerintah perlu perlu memberikan tambahan materi dalam mata pelajaran ini seperti materi mengapa kita harus menjaga dan melestarikan budaya bangsa Indonesia.

Hal lain yang perlu dicermati adalah adanya mata pelajaran Pengetahuan Umum yang sebenarnya adalah pengabungan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pengabungan ini terlihat fantastis karena siswa diberikan pandangan bahwa IPA dan IPS juga dalam rantai yang sama sehingga mereka melihat relevansi terhadap penggunaan dua ilmu tersebut dalam konteks kehidupan nyata. Terlebih lagi, pengabungan ini setidaknya membuat beban peserta didik di tingkat sekolah dasar menjadi berkurang karena anak seusia tidak terengguut waktunya dalam bermain.

Sisi terakhir yang perlu ditambahkan adalah pendidikan karakter. Penndidikan ini seharusnya benar-benar diperhatikan dalam kurikulum yang baru. Memang pemerintah selama ini sudah memberlakukan pendidikan karakter di sekolah. Namun, pendidikan soft skills  ini masih dirasa sangat kurang dan perlu pembaharuan karena keadaan moral bangsa saat ini belum mampu menunjukkan peningkatan nyata walaupun pendidikan karakter sudah dicanangkan oleh pemerintah dalam beberapa waktu yang lalu.

Terakhir, bagaimanapun kurikulum ini akan diubah, seharusnya pemerintah benar-benar melihat ini sebagai perubahan yang dapat membawa dampak lebih baik.  Bukan hanya karena politisasi dan kebijakan sementara untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek. Dan tidak lupa, turut serta semua komponen yang ada di negara ini pastinya juga sangat diperlukan karena setiap perubahan yang ada selalu diawali dari hal yang paling kecil. Harapan terakhir dari penulis, apapun kurikulum yang dipakai di Indonesia, Pendidikan Indonesia harus semakin maju dan dapat bersaing dengan negara-negara besar lainnya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s