Lelaki Tua Itu

Sebelum membaca cerita ini, aku ingin memberitahu bahwa cerita ini adalah cerita yang biasa, tapi bagiku ini luar biasa. Bagi yang ingin membaca silahkan dilanjutkan.

Siang itu, tanggal 6 Juli 2012, Aku dan kesebelas sahabatku pergi liburan ke dieng. Ya kami bukan mau tanding sepak bola. Tapi inilah salah satu waktu libur di antara waktu-waktuku yang tidak terhitung kapan kosongnya. Dari telaga, kawah sampai candi telah kita datangi, namun ada satu hal yang membuatku kaget, terpukau, terkesan sekaligus malu saat aku sampai di salah satu tempat disana. Tepatnya di kawah yang akupun juga lupa apa namanya sekarang, tapi aku ingat kawah itu mengeluarkan bau belerang yang sangat menyengat, seperti kentut tepatnya.

Disana aku bertemu seorang lelaki yang sudah berumur -demikian aku menyimpulkan karena giginya hampir lengkap, lengkap ompongnya dimakan usia, begitupun cara berjalannya yang pelan, dan kulit sawo matangnya yang sudah setengah keriput oleh waktu-. Tetapi, aku terkagum saat beliau yang sudah tua itu dapat berbicara lantang dan percaya diri di antara cewek-cewek cantik berpostur tinggi besar dan berkulit putih. Ya benar meraka adalah bule-bule yang berasal dari Belanda dan bapak itu bukanlah pacar mereka akan tetapi Beliau adalah seorang pemandu wisata. Inilah yang membuat aku malu, lelaki tua yang katanya tidak sekolah tinggi mampu bicara Bahasa Inggris dengan lancar dan percaya diri tanpa ada aa ee aa ee dalam pembicaraan yang sempat aku dengar. Hal itu sempat membuatku bertanya-tanya. Bukannya beliau tidak sekolah ataupun kursus, lelaki itu juga belum pernah pergi ke luar negeri, tapi bagaimana dia bisa belajar bicara Bahasa Inggris dengan lancarnya seperti itu? Dia juga tidak tinggal di Bali dimana banyak turis asing yang datang. Ok, what will happen next???

Selanjutnya, aku pun sok tanya-tanya sama bapaknya, padahal aku inginnya sih melakukan wawancara. Tapi sayang aku bukanlah wartawan. Sebagai penannya yang baik saya siapkan list berikut ini:

Bagaimana Bapak bisa ngomong Bahasa Inggris dengan lancar?

Ah mase bisa aja. Saya bisa-bisanan saja mas. Ya yang penting berani mas, jangan takut ngomong sama bule-bule yang datang. Kalau saya bertemu sama Bule. Saya dekati, saya ajak ngobrol walaupun bisanya hanya yes-no yes-no. Tapi saya ndak takut dan mencoba mendengarkan, kadang-kadang bicara, nanti juga bisa ngomong (Bahasa Inggris). Tapi memang banyak juga orang yang dapat kesempatan deket dengan bule, tapi mereka takut ndak mau ngomong, ya kalau seperti itu kapanpun juga ndak akan bisa ngomong mas. Jadi yang penting Berani sama dicoba saja. (Plok2 plok2 hebat bapaknya).

Pertanyaan kedua: Bapak sudah lama kerja jadi guide?

Ya sudah lama mas. Setelah menikah saya langsung belajar jadi guide, lalu kerja jadi guide sampai sekarang. Kalau dulu jadi guidenya itu pas sebelum menikah, wah pasti saya sudah dapat istri bule mas. Lawong jelek-jelek gini banyak Bule cantik suka sama saya mas. Tapi sayangnya saya sudah menikah ya jadinya ndak bisa……. (waduh Bapaknya kok jawab sampai situ yah).

Pertanyaan ketiga: Bapak dulu mulainya bisa ngomong Bahasa Inggris bagaimana Pak?

Kan sudah saya jawab tadi, mas. Saya dulu tu ndak bisa ngomong, yo bisane basa jowo karo Indonesia, lawong saya juga ndak sekolah tinggi-tinggi apalagi kuliah mas. Ya yang penting tu kita harus BERANI dan ada KEMAUAN pasti nantinya bisa mas. Terus kalau pas ada kesempatan kayak ada bule-bule ngumpul ya ikut aja, ikut mendengarkan gitu dan ngomong akhirnya bisa juga.

Pertanyaan keempat: Selain Bahasa Inggris, Bapak bisa Bahasa Apa lagi?

Yang paling bisa ya Bahasa Inggris mas, tapi kalau Bahasa Itali, Jepang, Mandarin itu ya baru sedikit-sedikit. Kan yang paling banyak bicara pakai Bahasa Inggris. (Gile benar ni Bapak tua ternyata bukan hanya Bahasa inggris aja yang bisa, ku akuin aku kalah telak Pak…)

Setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, akupun mulai termenung. Akhirnya ku dapat “SESUATU” dari situ. Lelaki itu mengajarkan padaku arti sebuah kata “Belajar”. Belajar tidaklah berangkat sekolah dengan sepeda motor dengan baju seragam putih biru, putih merah, ataupun putih-putih yang lainnya. Belajar bukanlah ketika kita membuka buku dan mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Belajar bukanlah hanya sekedar mendapatkan nilai yang bagus. Belajar juga bukan untuk mendapat Ijazah. TAPI…

Belajar itu adalah keberanian untuk “BISA”. Belajar itu adalah hal wajib yang harus dilakukan sepanjang nafasmu berhembus. Belajar adalah KEMAUAN untuk mengetahui. Belajar itu akan membuat pandangan orang terhadapmu menjadi lebih baik. Dan belajar itu akan membuatmu lebih berarti.

Pikiranku tidak terhenti saja sampai situ. Jika kita seorang guru, pernahkah terbersit untuk mengajari murid kita seperti halnya Lelaki tua itu lakukan. So kesimpulannya:

  1. Mempunyai fasilitas belajar yang canggih itu gampang, tapi memanfaatkannya itulah yang susah
  2. Mendapatkan orang pintar itu gampang, tapi menyerap ilmu dari mereka itulah yang susah

Tidak ada gunanya banyak orang pintar di sekitar kita, kalau kita tidak mau belajar dari mereka, dan tidak ada gunanya banyak alat-alat hebat di samping kita, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya. Dan kesimpulan terakhirnya yang benar-benar membuatku merenung adalah……….:

  1. Mengajari itu mudah, tapi membuat murid belajar itulah yang susah
  2. Menyampaikan ilmu itu mudah, tapi membuat murid menggunakannya itulah yang susah

Nah semoga dari cerita yang biasa ini, kita bisa mendapatkan manfaat walau sekecil apapun. Teruslah mengambil makna dari sesuatu hal yang ada di sekitar kita!!!

One thought on “Lelaki Tua Itu

  1. suipppppppppppppp🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s