SMK Berbagai Bidang

Setelah membaca buku Dunia Tanpa Sekolah Karya Izza sang penggarang cilik, banyak hal yang dapat diambil untuk menggambarkan sekolah di Indonesia sekarang ini. Ironis! Beberapa siswa tertekan dengan adanya suatu kewajiban yang harus mempelajari semua mata pelajaran sekaligus tanpa mengetahui apa kegunaan dan manfaat yang akan mereka dapat. Buku itu membuat Penulis terbelalak -sebagai seorang guru- jika melihat hal tersebut berlangsung di sekolah-sekolah bumi pertiwi ini. Hal yang paling membuat penulis sadar akan arti memanusiakan manusia dan wajib belajar seumur hidup (bukan wajib belajar sembilan tahun ataupun dua belas tahun). Hal yang sangat perlu diperhatikan oleh para penentu arah pendidikan di Indonesia.
Arti kata belajar yang sebenarnya bukanlah memaksakan peserta didik untuk belajar hal-hal yang mereka tidak tahu mengapa mereka harus belajar hal tersebut. Didukung dengan buku Genius Learning Strategy karya Adi W. Gunawan, manusia dilahirkan dalam bentuk dan kemampuan yang sama tanpa dilebihkan atau dikurangi. Perbedaannya adalah pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal yang paling penting adalah bagaimana memaknai cara belajar peserta didik. Tidak ada gunanya menberikan pelajaran pada siswa jika mereka tidak tahu kegunaan dan manfaatnya. Jika terjadi, hal tersebut hanya akan membentuk suatu kesadaran diri yang buruk karena mereka akan belajar untuk mendapatkan nilai tertinggi bukan belajar untuk menjadi pintar. Maka jangan salahkan beberapa siswa-siswi Indonesia jika mereka menjadi seorang yang bergaya hidup instan. Mereka tidak akan mempunyai kesadaran penuh untuk mempelajari mata pelajaran yang mereka tidak suka. Mereka hanya akan menyontek dan ngepek karena dalam benak mereka sekolah hanya untuk mencari nilai yang tinggi disertai ijazah untuk melanjutkan sekolah bukan bertujuan untuk mendapatkan ilmu. Hal tersebut yang mungkin membuat mutu pendidikan negara ini “naik” ke dalam skala peringkat ratusan dan melahirkan koruptor-koruptor di pemerintahan. Sungguh ironis!
Terlalu banyaknya mata pelajaran yang harus dipenuhi oleh siswa menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pembelajaran yang efektif dan efisien harus bersifat masuk akal dan berarti bagi siswa. Adi (2003: 77) menyebutkan bahwa masuk akal adalah pembelajaran yang mengajarkan materi yang berhubungan dengan hal-hal yang pernah dialami siswa sebelumnya. Sedangkan berarti berhubungan dengan relevansi terhadap diri murid itu sendiri. Jadi siswa akan menitikberatkan pada proses belajar bukan dari hasilnya yang berbentuk nilai. Jika ditelaah lebih lanjut, maka pembelajaran efektif dan efisien harus dilaksakan dengan penjurusan yang lebih cepat sehingga diperoleh sumber daya manusia yang sadar akan manfaat dan arti belajar yang sesungguhnya tanpa ada suatu paksaan tentunya.
Flashback ke era 1980-an Negara ini pernah menjadi ladang ilmu yang dikunjungi pelajar luar negeri seperti pelajar dari Malaysia dan beberapa Negara lain. Banyak pelajar yang masuk ke Indonesia untuk belajar di sini karena pada saat itu pendidikan di Indonesia dapat dikatakan bagus. Tapi mengapa Negara kita kalah dari Malaysia di bidang pendidikan sekarang? Apalagi jika dibandingkan di Negara-nagara maju yang lain. Hal yang mungkin sangat harus ditanyakan. Fakta menyebutkan bahwa pada tahun 80-an ada sebuah sekolah kejuruan untuk guru SD yang disebut Sekolah Pendidikan Guru (SPG). SPG ini adalah suatu lembaga pendidikan setara dengan SMA. Suatu kemajuan yang sangat baik karena di sekolah itu siswa-siswa sudah dibentuk menjadi orang yang memaknai belajar yang sesungguhnya. Mereka belajar untuk menjadi guru SD sehingga mereka akan sekuat tenaga dan penuh semangat belajar karena ilmu yang mereka dapatkan akan diaplikasikan dan menjadi patokan nantinya ketika mereka bekerja. Suasana demikianlah yang seharusnya dibentuk sekarang ini agar siswa-siswi Indonesia belajar dengan kesadaran mereka sendiri dan tercapailah pembelajaran yang cepat, efektif dan efisien tanpa adanya suatu tekanan.
Program pemerintah pusat saat ini untuk menjadikan SMK dan SMA dengan perbandingan 8:1 sangatlah baik. Dengan begitu maka peserta didik akan belajar dengan tujuan dan manfaat yang nyata. Hal tersebut akan bermanfaat saat mereka bekerja pada bidangnya masing-masing suatu hari kelak. Kemudian terbentuklah anggapan bahwa “jika aku belajar nanti akan bisa bekerja dengan baik dan sukses”, sedangkan “jika tidak belajar maka akan kalah dengan orang lain”. Anggapan inilah yang akan membentuk suatu pemikiran baru yang bukan sekedar mencari nilai semata. Kemudian sebagai output-nya adalah siswa yang siap bersaing dan dapat belajar lebih dalam disiplin ilmu yang ditekuni di bangku perkuliahan. Tetapi, SMK-SMK yang ada sekarang ini masih menjurus pada jurusan tertentu dan banyak berkutat pada tekhnik mesin, elektro, ekonomi, dan tekhnologi informasi saja. Betapa majunya Negara kita jika dari usia SMA atau SMK sudah menjurus dalam bidang yang amat luas dalam SMK berbagai bidang seperti sekolah menengah keguruan, hukum, musik, sastra Indonesia dan Inggris, kedokteran, gizi, dan lainnya. Siswa-siswi yang tahu bagaimana cara belajar tanpa paksaan, belajar yang efektif dan efisien, belajar dengan senang, dan sebagai pencapaiannya mereka akan menjadi manusia yang sangat kompeten jika mereka lebih mendalami disiplin ilmu di perguruan tinggi. Dengan penuh harap dan cira-cita maka Negara ini akan dipenuhi guru-guru professional, ilmuan-ilmuan, ahli-ahli atau professor-professor yang haus akan ilmu. Amien.

by Riko Arfiyantama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s